Jalan Damai Penyelesaian Konflik Di Papua - Megapolitan Pos Online | Jembatan Informasi Masyarakat

Jalan Damai Penyelesaian Konflik Di Papua

Peristiwa
jalan damai penyelesaian konflik di papua
Program Studi Ilmu Hubungan Internasional USNI Jakarta menyelenggarakan Kuliah Umum

MEGAPOLITANPOSCOM, Jakarta-Mencari solusi dan permasalahan Papua di Tingkat Lokal, Nasional dan Internasional
Jakarta 21 Oktober 2019 - Program Studi Ilmu Hubungan Internasional USNI Jakarta menyelenggarakan Kuliah Umum yang bertema “Jalan Damai Penyelesaian Konflik Papua” dengan narasumber Ibu Dr. Adriana Elisabeth, M.Soc.Sc dari (Peneliti Pusat Penelitian LIPI), Bapak Dr. Moksen Idris Sirferfa dari (Bappenas desk Papua), Methodius Kosas, S.H, M.Hum dari (Tokoh Pemuda Papua), dan Pradono Budi Saputro, S.Hum, M.Si dari (Ketua Program Studi Hubungan Internasional USNI).

Kegiatan ini berlangsung dari pukul 10.00 s/d 12.00 di Ruang Kuliah RB 301 USNI, dengan mengharapkan hasil dari kuliah umum ini dapat menjadi tinjauan program studi ilmu Hubungan Internasional dalam membentuk visi misinya beberapa tahun kedepan.
Methodius Kosas mengawali kuliah umum dengan menjelaskan kehidupan situasi dan kondisi yang terjadi di Papua, bahwa sudah dilihatnya dari beberapa tahun yang lalu diwarnai oleh kekerasan. Dengan adanya Luka Batin Kepercayaan yang dialami dengan pendekatan (1) Budaya, (2) Religius, (3) Humanistik dan (4) Personal. Dalam penjelasannya juga Methodius Kosas memberikan contoh pelatihan skill bagi masyarakat Papua, yaitu dengan adanya menggali kompetensi masyarakat Papua yang Berkepemimpinan dan Berkarakter dengan mengadakan pelatihan yaitu mendirikan asrama.

Dan inti dari konflik Papua yang disampaikan oleh Methodius Kosas, yaitu Damai tanpa adanya kekerasan, Menghargai satu sama lain dan keterlibatan antara pihak.
Seterusnya, penjelasan dari Adriana Elisabeth ialah adanya menceritakan kehidupan dinamika Papua, yaitu (1) Pembangunan infrastruktur dan perubahan sosial dan (2) Pembangunan infrastruktur dan perubahan sosial. Seterusnya, adanya perubahan yang berkelanjutan di Papua, yang berdampak positif seperti (1) Pembangunan Infrastruktur dan (2) Generasi Millenial Papua (Otsus).

Menurut Adriana Elisabeth dalam menyelesaikan resolusi konflik di Papua ialah (1) Manajemen Konflik dengan Mengurangi perbedaan pemahaman dan Menjalankan harmonisasi pendekatan, (2) Pencegahan Konflik dengan Adanya pendekatan keamanan manusia dengan cara membangun kohesi sosial antara warga Papua Pemberdayaan secara inklusif; Adanya perdamaian dalam Agama, masyarakat, perempuan dan pemuda, dan Adanya ketahanan nasional dengan cara evaluasi regulasi, penguatan kelembagaan, koordinasi dan sinergi. (3) Transformasi Konflik : Adanya pendekatan pada proses dan perubahan/perbaikan setiap aspek dan Adanya proses jangka panjang, multi track, dan inklusif.

Seterusnya Moksen Siferfa menjelaskan bahwa Papua merupakan “kakak” bagi negara-negara di kawasan Pasifik seperti kepulauan Solomon, Fiji, dll. Maka dari itu mereka mulai memikirkan menjalin kerjasama dengan Indonesia. Tidak hanya Malaysia dan Singapura sebagai negara serumpun, negara di kawasan Pasifik juga merupakan negara serumpun. 70% ras Melanesia ada di Papua.

Di samping itu, Moksen Siferfa menjelaskan adanya pembagian Papua dalam konteks Internasional, Nasional, dan Regional, yaitu (1) Konteks Internasional yang terdiri dari Geo Politik, Geo Ekonomi, Perkembangan IT, dan Trend Global Pembangunan (2) Konteks Regional yang terdiri dari Dinamika Politik Lokal, Dinamika pelaksanaan OTSUS, Pendekatan sosial dalam melaksanakan Perencanaan Pembangunan, Penguatan peran serta CAP dalam pembangunan. Terakhir (3) Konteks Nasional yang terdiri dari Kebijakan Politik OTSUL, Kebijakan Pemekaran Prov/Kab/Kota 2002-2010, Kebijakan Percepatan Pembangunan Papua 2007, 2011, 2017, dan Kebijakan Adopsi Berbasis Wilayah Adat dalam RP JMN 2014-2019.

Terakhir oleh Pradono Budi Saputro yang menjelaskan peresmian Papua resmi bergabung dengan NKRI setelah diadakannya Pepera (Penentuan pendapat rakyat) pada tahun 1969. Hasil tersebut dikukuhkan dengan resolusi PBB 2504. Seterusnya dengan adanya NGO yang mengatasi isu Papua yaitu Melanessia Sparehard Group (MSG) dan adanya WLMP yang merupakan organisasi non pemerintah yang telah disahkan oleh PBB untuk mengatasi isu permasalahan HAM yang ada di Papua.

Indonesia sebagai negara anggota observer WLMP dan MSG untuk mengatasi permasalahan yang ada Papua dengan cara melakukan Diplomasi Persuasif.

Dan terakhir isu yang sedang hangat-hangatnya ialah Amerika Serikat dengan Indonesia yang mengambil alih PT. Freeport dan pada tahun 2018 dikembalikan sahamnya ke Indonesia sebanyak 51%.

Author

MEGAPOLITANPOS.com adalah Media Online yang melayani informasi dan berita dengan lugas, kritis, dan mencerahkan sekaligus mencerdaskan bagi pembaca dengan data dan fakta berita. Media yang menyajikan berita-berita nasional, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi bisnis, olahraga, iptek, gaya hidup, hobi, profil, dan lain sebagainya akan menjadi suguhan menarik, melegakan kehausan akan cinta dunia informasi terkini yang menginspirasi, memberikan inovasi sekaligus sarana aspirasi…

Back to Top