MEGAPOLITAN POS.COM: Jakarta – Siti Omsiyah, 64 Tahun, warga Jelambar, Jakbar. Pada 11 April pukul 11:00 Wib mengalami sesak nafas dan sakit perut. Oleh keluarga dibawa ke IGD RS Duta Indah, Jakbar. Sampai di IGD oleh RS diberi penanganan berupa infus, oksigen, dan rontgen paru-paru. Hasil rontgen paru-paru dinyatakan bagus.

Demikian tutur Yudi Saputra, anak Siti Omsiyah menceritakan kepada rekanindonesi.org. Tanggal 12 April 2021, jam 09:00 Wib. Ibunya kembali di rontgen untuk kedua kalinya di bagian perut.

“Hasil rontgen menurut dokter ibu saya mengalami kebocoran lambung, dan harus segera dilakukan tindak operasi serta membutuhkan ruang ICU, pukul 15:00 ibu saya di swab antigen” papar Yudi.

Sambil menunggu hasil swab antigen keluar, Yudi oleh dokter diminta mencari RS yang dapat menerima operasi ibunya dan ada ruang ICU kosong.

“Saya disuruh segera mencari RS agar ibu saya bisa segera di operasi, karena di RS Duta Indah ICU-nya di pakai untuk ruang isolasi COVID 19, tapi tidak dibekali surat rujukan dari RS” lanjut Yudi bercerita.

Masih menurut Yudi, keluarganya dari jam 17:00 Wib, tanggal 12 April 2021 sampai jam 23:00 Wib, tanggal 13 April 2021 pontang-panting mencari RS yang bisa menerima ibunya untuk di operasi dan ada ruang ICU-nya.

“Hampir 80 RS di DKI semua menyatakan tidak dapat menerima ibunya dan rata-rata alasannya karena ruang ICU penuh” tutur Yudi.

Ditengah putus asa, Yudi diberitahu tetangganya untuk menghubungi Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia untuk membantu kesulitan yang dihadapinya. Laporan masuk melalui anggota Rekan Indonesia Jakbar. Dan kasus langsung ditangani oleh pengurus Rekan Indonesia Jakbar, Vingga.

Mendapat laporan tersebut, team Rekan Indonesia Jakbar Vingga dan Hanko segera meluncur ke RS Duta Indah untuk memastikan apakah rujukan sudah berjalan dan menemui keluarga pasien untuk menanyakan perkembangannya.

“Sampai di RS Duta Indah, setelah kami cross cek laporan ke keluarga pasien ternyata benar adanya” ucap Hanko.

Hanko melanjutkan, setelah memastikan kebenaran laporan maka Rekan Indonesia segera berkoordinasi dengan pihak RS untuk mengkonfirmasi laporan tersebut.

“Kami memastikan kembali di administrasi rs dan kepada dokter jaga. Serta menanyakan mengapa pada saat meminta bantuan keluarga untuk mencarikan RS Rujukan pihak keluarga tidak diberikan surat rujukan maupun rekam medis pasien untuk lampiran dalam mencari RS rujukan.” tegas Hanko.

Dari hasil konfirmasi ke pihak RS, dr. Ardin sebagai dokter jaga meminta maaf jika terjadi miss komunikasi dan akan di sampaikan kepada pihak management, sementara perawat bernama Ayu yang berjaga di hari itu dia mengaku bahwa surat rujukan maupun rekam medis tidak bisa diberikan ke keluarga pasien. Padahal sesuai UU Pelayanan rekam medis pasien adalah hak pasien.

masih menurut Hanko, begitu mendapat keterangan dari pihak RS, Rekan Indonesia segera mencarikan RS rujukan. Dan akhirnya bisa masuk ke RSUD Tarakan. (Red/ysf)