Kampung Masigit Benahi Infrastruktur Desa Secara Swadaya Masyarakat.

Banten(MEGAPOLITANPOS.COM):
Peresiden Jokowidodo menjadikan infrastruktur sebagai prioritas utama dalam pembangunan di Indonesia termasuk infrastruktur penunjang pembangunan ekonomi pinggiran di pedesaan.

Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi( Kemendes PDTT) Republik Indonesia nomor 6 tahun 2020, Pembangunan desa adalah upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat desa.

Pembangunan infrastruktur ini ditargetkan untuk seluruh wilayah di Indonesia dengan krakteristik yang berbeda.

Desa Berkembang adalah Desa yang potensial menjadi Desa Maju, yang memiliki potensi sumber daya sosial, ekonomi, dan ekologi, tetapi belum dikelola secara optimal untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa, kualitas hidup manusia dan dalam menanggulangi kemiskinan.

Gambaran inilah yang ada di Kampung Masigit RT.03 dan RT. 06 Kecamatan Kramatwatu Kabupaten Serang Provinsi Banten selaku desa berkembang.

Kampung Masigit sendiri terletak diantara dua kota besar di Provinsi Banten yaitu Serang dan Cilegon. Letaknya cukup strategis berada di sepanjang jalan raya Cilegon, sehingga mudah untuk diakses.

Selain itu, keadaan di sini cukup baik dengan kondisi jalan umum desa yang sudah di aspal. Walaupun demikian, masih terdapat beberapa hal yang kurang memadai disini. Seperti kondisi aliran air ( drainase)di Pemukiman Cluster Mariana yang kurang baik (tidak dapat menampung air dalam jumlah banyak) sehingga sering mengakibatkan terjadinya genangan banjir saat hujan tiba.

Dalam meningkatkan mobilitas serta perekonomian di Kampung Masigit. Aparatur desa setempat mengadakan perbaikan infrastruktur secara swadaya masyarakat.

Perbaikan infrastruktur ini dipimpin Pak Gito selaku Ketua RT setempat. Kegiatan perbaikan infrastruktur ini telah dilakukan dari tahun 2019 hingga tahun 2021.

Kegiatan ini dibagi menjadi 3 tahap pelaksanaan. Tahap pertama dilaksanakan pada ditahun 2019 dengan rancangan biaya awal 37 juta dengan total panjang 250m2
Tahap kedua di tahun 2020 dengan Rancangan Anggaran Biaya ( RAB ) awal 36 juta. Dan tahap ketiga ditahun 2021 yaitu perbaikan kevling masigit baru yang membutuhkan dana 39.5 juta.

Pada tahap ketiga ini baru berjalan 85% pengerjaan. Adapun mekanisme yang digunakan dalam pembangunan ini ialah dengan sistem kerja bakti dan gotong royong warga setempat. Khususnya warga Masigit Baru, Claster Mariana dan juga warga Masigit Lama.

Hal ini selaras dengan tujuan dari pemberdayaan Desa, yang terdapat pada Peraturan Kemendes PDTT, nomor 6 tahun 2020. Pemberdayaan Masyarakat Desa adalah upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat Desa.

Gito menjelaskan soal pendanaan dilakukan dengan iuran antar warga dan para donatur setempat. Beliau memaparkan bahwa program perbaikan infrastruktur ini lebih kedalam kegiatan swadaya masyarakat atas keinginan bersama dalam memperbaiki keadaan lingkungan setempat. Dan ia sebagai fasilitator dalam kegiatan perbaikan tersebut.

“Pendanaan pada kegiatan ini ialah dari swadaya masyarakat murni maksudnya bersumber dari sumbangan warga dan para donatur”, ungkap Gito di rumahnya, Minggu(28/3/2021) saat dilakukan wawancara.

Syifyani,salah seorang warga di lokasi sekitar mengatakan,kegiatan perbaikan infrastruktur dan sarana di Kampung Masigit RT.03 dan RT.06 ini diakukan dengan swadaya masyarakat setempat.

” Diinisiasi karena adanya keinganan dalam memperbaiki keadaan sarana desa yang kurang baik, selain itu adanya keluhan dari masyarakat megenai sarana umum yang buruk seperti sering terjadinya genangan air akibat buruknya sistem pengaliran air dipemukiman setempat,” ujar Syifyani.

Awalnya Perbaikan infrastruktur ini digagas oleh ketua RT.06 yaitu Bapak Gito. Tetapi karena letaknya yang berdekatan dengan RT. 03 maka cangkupan wilayah diperluas hingga memasuki wilayah RT.03. Hal ini disambut baik oleh warga RT. 03 yang memang mengharapkan adanya perbaikan segera.

Soal pendanaan yang dilakukan secara bersama dengan iuran antar warga, Gito kembali menjelaskan bahwa, sejauh ini tidak ada warga RT.03 yang merasa terbebani dengan hal tersebut. “Justru para warga yang tidak bisa membantu dengan tenaga karena faktor usia dan pekerjaan, mereka membantu dengan ikut memberi bantuan keuangan,” tukas Gito.

Adanya keterbukaan dan transparasi dalam penanganan keuangan membuat warga percaya dan merasa aman.

Hal ini sejalan dengan terus masuknya dana dari warga yang ingin ikut membantu walaupun tidak terjun langsung ke lapangan.

“Sejauh ini sih gak ada yang merasa keberatan, karena sebenarnya ini juga kemauan warga. Karena udah lama kalo hujan sering ada genangan air yang mengganggu,” tutup Gito.( MMI,ASl/ Red/ Mp)

Artikel Oleh : Mutmainnah Iryanti
( Mahasiswi Sekolah Vokasional IPB)

Editor: Achmad Sholeh

Leave a Comment