Webinar bersama Forum Wartawan Daerah( Forwada) bertajuk”Membangkitkan Optimisme Industri Pariwisata Nusantara” Kamis (4/3/2021).

Jakarta (MEGAPOLITANPOS.COM-sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19 cukup parah. Ini lantaran beberapa sektor pariwisata banyak yang ditutup dan dibatasi.

Hal tersebut dikatakan Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Nia Niscaya dalam Webinar bersama Forum Wartawan Daerah( Forwada) bertajuk”Membangkitkan Optimisme Industri Pariwisata Nusantara” Kamis (4/3/2021).

Nia mengatakan Kemenparekraf terus berupaya menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata utama di Asia Pasifik, dengan meningkatkan dan membangun strategi pemasaran yang lebih baik lagi.

“Tentunya kita ingin menjadikan Indonesia sebagai destinasi utama di Asia Pasifik,caranya melalui quality tourism yang berkualitas, artinya mengejar orang yang tinggalnya lebih lama sehingga spendingnya lebih besar dan dari sisi destinasinya super prioritas,” kata Nia.

Menurutnya ada tahapan-tahapan dalam melakukan pemasaran. Pertama adalah building confidence and gaining trust. Ini adalah membangun kepercayaan dari sisi industrinya bahwa Indonesia siap menghadapi new normal dan juga membangun kepercayaan dari market.

“ Trend sekarang itu bukan destinasinya cukup menarik atau tidak, tetapi poin yang utama bagaimana menerapkan protokol kesehatan di situ,” ujarnya.

Pola wisatawan kata Nia, misalnya wisatawan sekarang tidak berwisata ke tempat-tempat yang ramai karena mengkhawatirkan kondisinya. Mereka lebih banyak mencari tempat yang menerapkan protokol kesehatan dan berorientasi di alam terbuka serta adventure.

” Bahkan dari sisi penerbanganpun sebagian orang lebih suka direct flight. Atau menyewa sendiri pesawat khusus keluarga yang tidak bercampur dengan penumpang lain,” imbuhnya.

Berikutnya kedua adalah soft selling. Setelah memulihkan kepercayaan pasar, Kemenparekraf akan melihat data-data dari sosial media, foto-foto asing yang tersebar di dunia maya, serta dari mitra-mitra Kemenparekraf di luar negeri untuk mencari tahu persepsi mereka terkait pariwisata Indonesia.

Selanjutnya,setelah persepsi pasar terkait Indonesia bagus, maka Kemenparekraf akan mulai soft selling dan sekaligus menerapkan tahap ketiga yakni hard selling.

“Memang pemasaran pariwisata sangat tergantung kepada penanganan covid-19, karena ini persoalan persepsi. Kemudian bicara pemasaran secara hukum regulasi kita ada pengembangan pasarnya, pengembangan citra, mitra dan promosinya,” ujarnya.

Lantaran, Key Performance Index (KPI) kita diukur dari pergerakan wisatawan Nusantara/domestik dan wisatawan mancanegara, dan brand recall index, Untuk mengetahui seberapa tahu orang mengenai brand kita “Wonderful Indonesia”.

“Kita harus berinovasi, beradaptasi dan berkolaborasi, sekarang ini kita sudah melakukan kolaborasi dalam rangka membangun persepsi bahwa Indonesia sudah siap dengan new normal,memang tantangannya menegakkan protokol kesehatan,” tutupnya.(AL)