Adjie Rimbawan, Seknas Rekan Indonesia (kanan)
Adjie Rimbawan, Seknas Rekan Indonesia (kanan)

MEGAPOLITANPOS.COM. JAKARTA- Luapan air besar yang menenggelamkan sebagian kawasan pemukiman di Kota Jakarta sepanjang tiga hari ini tergolong banjir terparah selama lima tahun terakhir. Bencana banjir ini benar-benar musibah yang luar biasa. Banjir besar yang disebabkan oleh derasnya curah hujan yang mencapai 200 mm lebih ternyata tidak hanya menerjang Jakarta. Hal yang sama juga melanda Jawa Barat, Kota Bandung, Bogor dan sekitarnya.

Namun bila mengikuti pemberitaan di media massa hanya Jakarta saja yang disorot. Bahkan memberi kesan atau terjadi pembentukan opini publik Ibu Kota Jakarta sudah tenggelam total. Padahal dari data yang dirilis pemprov DKI Jakarta luas area yang tergenang hanya 4 Km per segi, tidak mencapai 1% dari total luas DKI Jakarta.

Itulah yang saat ini terjadi. Di mana Anies Baswedan dibully secara brutal oleh kelompok yang anti atau tidak suka padanya. Seakan mereka sedang mendapatkan panggung untuk membantai sang gubernur.
Namun bully-an yang dilakukan oleh kelompok yang anti atau tidak suka pada Anies Baswedan, tidak mendapat respon dari warga DKI, terutama warga DKI yang menjadi korban banjir. Warga DKI yang nota bene rata-rata memiliki pengetahuan lebih tinggi lebih dewasa dan bijaksana menyikapi musibah banjir tersebut dengan tidak mengeluarkan sumpah serapah. Seakan banjir tersebut kesalahan satu orang saja. Bahkan banjir ini menggerakan warga DKI untuk bahu membahu dengan pemprov DKI menanggulangi musibah banjir.

Demikian disampaikan oleh Sekretaris Nasional Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia, Adjie Rimbawan dalam siaran persnya, siang ini (22/2) di Jakarta. Adjie, biasa dia dipanggil memaparkan bahwa musibah banjir di DKI telah mewujudkan kolaburasi yang konkrit, dimana warga DKI tidak hanya menunggu tapi juga ikut berperan aktif bersama pemprov DKI Jakarta menganggulangi musibah banjir ini.

“Dari pantauan Rekan Indonesia, kolaburasi warga dengan pemprov DKI di lokasi banjir saat ini begitu nyata. Bukan hanya saat banjir terjadi, saat surut pun warga tanpa diperintah ikut juga bergabung melakukan bersih-bersih dilingkungannya bersama petugas lintas dinas pemprov DKI” papar Adjie.

Masih menurut Adjie, berdasarkan pantauan Rekan Indonesia banyak warga DKI yang menjadi korban banjir menganggap ini sebagai musibah dan tidak ada yang menganggap ini sebagai kesalahan pemprov DKI. Hal ini menurut Adjie, karena warga melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keseriusan lintas dinas pemprov DKI menanggulangi musibah banjir.

“Tanggapan warga ini kami dapat lewat anggota Rekan Indonesia yang terlibat aktif di posko-posko pengungsian. Disela-sela ngopi bareng anggota kami juga berbincang-bincang dengan warga meminta pendapatnya terkait musibah banjir saat ini” jelas Adjie.

“2016 kami pernah punya pengalaman dimana untuk membawa korban banjir yang sakit saja menunggu ambulan AGD lama minta ampun, lapor pagi baru sore datang alasannya jalan yang di tempuh terhalang titik banjir” cerita Adjie terkait pengalaman Rekan Indonesia dalam menghadapi musibah banjir di DKI.
Beda dengan sekarang, petugas puskesmas tidak segan-segan untuk menyabangi posko-posko pengungsian, sehingga ketika ditemukan warga yang sakit bisa langsung ditangani di lokasi. Bukan hanya pada warga yang sakit, terhadap balita yang terdampak banjir pun puskesmas juga memperhatikan dengan memberikan bantuan makanan untuk balita.

“Bayangkan di setiap bencana, balita pasti terlupakan. Bantuan hanya difokuskan pada orang dewasa. Tapi sekarang semua diperhatikan termasuk balita” tegas Adjie.
Jadi, kata Adjie. Sebaiknya kelompok yang anti atau tidak suka pada Anies Baswedan menyalurkan energi positifnya untuk bersama-sama warga bahu membahu menganggulangi musbih banjir di Jakarta, ketimbang menghabiskan waktu untuk membully di medsos.

“Percuma, gak direspon warga DKI. Apalagi yang disorot hanya Jakarta sementara banjir kali ini bukan hanya terjadi di Jakarta saja.” Seloroh Adjie.

Terakhir Adjie mengingatkan juga kepada para politisi untuk tidak mengambil keuntungan politik ditengah musibah banjir. Bagi para politisi serangan yang dilancarkan bukan tanpa tujuan. Mereka sudah membuat kalkulasi politik yang berpotensi melahirkan keuntungan. Keuntungan politik adalah meningkatkan pengaruh sang politisi di tengah publik.

“Jadi jelas terlihat, dalam situasi sulit yang sedang melilit sebagian warga Jakarta justru para aktor politik justru sibuk mencari panggung ketimbang bersatu padu mengatasi masalah yang ada.” Tutup Adjie.