Penanganan Covid Di Banten Kurang Optimal, Rekan Indonesia Sarankan Masifkan Sosialisasi Ke Warga Langsung

Susiyanto Ketua Rekan Indonesia Banten Saat Baksos Bantuan Untuk Lansia November 2020

MEGAPOLITANPOS.COM. BANTEN- Penanganan covid19 di Provinsi Banten dinilai kurang optimal, ini terlihat dari kurang masifnya Pemprov Banten melakukan sosialisasi tentang bahaya covid19 dan kedisiplinan warga dalam melaksanakan protokol kesehatan. Kurang optimalnya penanganan covid19 di provinsi Banten dapat terlihat dari masih banyaknya pelanggaran pelaksanaan protokol kesehatan.

Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy mengungkapkan dalam telekonferensi Rapat Koordinasi Lanjutan Pembahasan Tentang Tindak Lanjut Penanganan Covid-19 yang digelar Kementerian Koordinator Perekonomian, Senin malam, (7/2/2021), hingga Desember 2020 terdapat 165.875 pelanggar protokol kesehatan (Prokes). Data itu merupaka hasil tim pelaksana operasi yustisi Pemerintah Provinsi Banten bekerjasama dengan Gugus Tugas Penanganan Covid 19 Kabupaten/Kota se-Provinsi Banten.

Rinciannya Kota Tangerang sebanyak 66.533 orang, Kabupaten Tangerang sebanyak 64.398 orang, Kabupaten Lebak sebanyak 10.623 orang, Kota Serang sebanyak 5.509 orang, Kota Tangerang Selatan sebanyak 5.251 orang, Kabupaten Pandeglang sebanyak 2.656 orang, Kota Cilegon sebanyak 5.294 orang, serta Kabupaten Serang sebanyak 1.220 orang.

Di lapangan masih dapat dilihat masih banyak warga Banten yang tidak mengindahkan protokol kesehatan, dimana banyak warga yang measih berkumpul tanpa menjaga jarak, penggunaan masker pun masih dianggap tidak penting oleh warga Banten.

Hal ini disampaikan oleh Susiyanto, Ketua Kolektif Pimpinan Wilayah (KPW) Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia provinsi Banten, dalam siaran persnya yang disampaikan kepada media sore ini (21/2) di Serang, Banten.

“Hasil pantauan Rekan Indonesia Banten, banyak warga yang sudah tidak mematuhi protokol kesehatan. Warga masih banyak berkumpul tanpa menjaga jarak dan memakai masker. Bahkan disebagian warga Banten ada yang beranggapan bahwa dilingkungan tempat tinggalnya tidak ada covid19” papar Yanto panggilan akrabnya.

Yanto menambahkan, turunnya kesadaran warga Banten dalam kewaspadaan terhadap covid, disebabkan kurang optimalnya sosialisasi yang dilakukan pemprov Banten kepada warga. Hal ini bisa dilihat dari tingkat pemahaman kepala desa, ketua adat, ketua RW/RT, dan tokoh masyarakat yang sama sekali tidak memahami akan bahaya covid 19.

“Karena kurangnya pemahaman sehingga upaya preventif tidak berlangsung di provinsi Banten. Belum lagi jika kita lihat pabrik-pabrik di Provinsi Banten banyak yang tidak menerapkan protokol kesehatan untuk pekerjanya” kata Yanto.

Masih menurut Yanto, saat ini klaster keluarga mendominasi di provinsi Banten. Untuk itu pemprov Banten harus segera melakukan sosialisasi yang masif serta memetakan mekanisme penanganan Covid-19 dengan baik.

Leave a Comment