MENJELANG HARI RAYA KONGIAN

Linda Christanty, Penulis Dan Jurnalis
Linda Christanty, Penulis Dan Jurnalis

MEGAPOLITANPOS.COM. JAKARTA- hari ini 12 Februari 2021 bertepatan dengan perayaan Imlek, bicara Imlek ada sejarah panjang Imlek di Indonesia. Pada masa Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, perayaan Imlek dan berbagai tradisi Cina dibatasi di Indonesia. Inpres No 14 Tahun 1967 itu membuat warga masyarakat keturunan Tionghoa tak lagi bisa merayakan ritual-ritual Konghucu, kepercayaan asli mereka.

Termasuk merayakan Imlek dengan menggelar pertunjukkan barongsai dan mengarak patung dewa-dewa alias toapekong di tempat-tempat umum. Huruf-huruf atau lagu Mandarin tidak boleh diputar di radio. Koran-koran beraksara Cina diberangus. Sekolah-sekolah Cina yang mengajarkan bahasa dan kebudayaan Cina pun ditutup.

Lantas, sejarah Imlek di Indonesia berlanjut di era kepemimimpian Presiden Abdurrahman Wahid. Pada 17 Januari 2000, Gus Dur mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2000, isinya mencabut Inpres No 14/1967 yang dibuat Soeharto tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China. Artinya, warga keturunan Tionghoa tak lagi memerlukan izin khusus untuk mengekspresikan secara publik berbagai aspek dari kepercayaan, kebudayaan, dan tradisi asli mereka. Kemudian, pada 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Mulai tahun 2003, hingga saat ini tahun baru Imlek merupakan hari libur nasional.

Imlek tahun 2021 kita disuguhi tulisan yang sangat bergizi dalam menambah nutrisi kita terhadap pemahaman terkait Imlek. Tulisan yang diracik oleh Linda Christanty ini akan menambah wawasan kita terhadap Imlek itu sendiri.

Linda Chirstanty, adalah seorang penulis penulis fiksi serta sekaligus jurnalis yang aktif menulis kondisi sosial, sehingga dia dijuluki Sang penutur kesedihan.

Redaksi MEGAPOLITANPOS.COM mengucapkan Selamat Hari Raya Imlek 2021, dan selamat menikmati tulisan Linda Christanty.

MENJELANG HARI RAYA KONGIAN

Orang-orang Cin atau Hakka atau Tionghoa di Pulau Bangka tidak menyebut Imlek, tetapi Kongian, dalam Bahasa Hakka. Hari raya ini terasa meriah. Suasananya seperti Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Natal. Pintu-pintu rumah dibuka untuk tamu-tamu yang datang, dari berbagai suku dan agama. Makanan lezat, tawa terdengar di mana-mana. Karena lahir dan tumbuh dalam keberagaman, orang-orang Tionghoa di Pulau Bangka mengerti bahwa pemeluk Islam tidak makan daging babi dan mereka tidak pernah meremehkan urusan halal dan haram ini. Ibu teman saya membeli kuali baru khusus untuk memasak opor dan rendang demi menjamu tamu-tamu anaknya. Setelah kenyang di tempat, tamu-tamu istimewa ini juga masing-masing memperoleh sebungkus masakan untuk dibawa pulang. Saya gembira menunggu momen ini.

Tidak hanya Kongian yang dirayakan. Peh Cun juga perayaan penting. Pada pagi hari perayaannya, pantai selalu surut dan makanan-makanan dihanyutkan dalam keranjang untuk penguasa laut. Di saat Peh Cun ada kue cung, yang menjadi ciri khasnya. Kue ini berbentuk segitiga dari ketan dan berisi olahan daging babi. Bagi yang tidak makan daging babi, ada kue cung berisi daging sapi. Orang-orang di Jakarta menyebut kue cung ini kue bacang. Sementara itu, di Pulau Bangka, bacang adalah nama buah. Sejenis mangga. Kulitnya kehijauan. Dagingnya kuning. Rasanya manis.

Cap Goh Meh artinya malam 15, dirayakan pada bulan Chia atau bulan 1 Imlek. Sembahyang Kubur umumnya dirayakan pada bulan 4. Di waktu ini orang-orang Tionghoa pergi ke kuburan untuk berziarah dan berdoa. Sejauh apa pun mereka merantau, mereka akan kembali untuk Sembahyang Kubur. Pesawat terbang rute Jakarta-Pangkalpinang penuh tiap menjelang Sembahyang Kubur.

Sembahyang Rebut mengingatkan saya pada pembakaran patung kertas yang besar. Ketika melewati kelenteng-kelenteng besar, termasuk di Batu Rusa, pada hari sembahyang ini saya melihat makanan-makanan dilempar dan orang-orang Tionghoa berebut untuk mengambil berkah. Perebutan ini bagian dari prosesi, bukan huru-hara.

Di Pulau Bangka, orang-orang Tionghoa tidak tercerabut dari budayanya. Sehari-hari mereka menggunakan Bahasa Hakka ketika berbicara dengan orangtua dan orang sesukunya. Menggunakan Bahasa Melayu ketika bercakap-cakap dengan suku-suku lain. Menggunakan Bahasa Indonesia ketika berbicara dengan guru di kelas dan orang-orang dari luar pulau. Banyak bahasa dituturkan di pulau timah terbesar di dunia ini. Bahasa Hakka (Khe), Bugis, Buton, Melayu, Jawa, Madura, Ambon, Batak, Sunda, Minahasa, Padang, Flores, Korea, Jepang, Jerman, Belanda, Inggris …. Beragam suku dan bangsa, beragam pula bahasa.

Beberapa tahun lalu, saya mewawancarai seorang cendekiawan yang bercerita bahwa ia dilahirkan di daerah yang hanya dihuni orang-orang Sunda. Suatu hari seorang Jawa datang sebagai guru sekolah dan kampungnya geger. Orang Jawa itu dianggap alien. Mereka mengamati gerak-geriknya dengan curiga, karena ia berbeda. Saya tertegun. Peristiwa seperti ini langka di Pulau Bangka, karena penghuninya tidak homogen.

Di rumah teman-teman Tionghoa selalu ada altar kecil untuk pemujaan. Hio dan lilin dinyalakan.

Waktu di sekolah menengah pertama, saya dan adik-adik dikursuskan privat Bahasa Inggris. Pengajar kami lelaki Tionghoa yang tampan: Ko Tat. Saya hanya tahan belajar dua kali. Adik-adik saya kursus sampai tamat. Saya kemudian dikursuskan matematika. Pengajarnya juga seorang Tionghoa. Karena bosan, saya lebih sering makan kerupuk di kelas dan tidak terlalu memperhatikan apa yang diajarkannya. Kebetulan salah seorang peserta kursus bernama Emi dan ia berjualan kerupuk untuk menambah uang saku.

Di sekolah menengah pertama, kebanyakan teman sekolah saya orang Tionghoa. Bun Tjoi Tet, Liong Nget Kian, Cit Mie, Yasinta … Ada juga orang Korea yang tampan. Namanya Kim Sae Young. Sayang sekali, ia dan keluarganya akhirnya pulang ke Seoul. Ayahnya, seorang pendeta. Dari teman sekelas yang bersurat-suratan dengannya, saya mendengar ia terkena wajib militer.

Di depan sekolah kami, ada warung kecil. Pemiliknya orang Tionghoa. Saya dan teman-teman sekolah sering makan bakso ikan di situ. Namanya njan. Tapi Njan di Pulau Jawa adalah nama panggilan salah seorang anak Sule, pelawak yang tersohor di negeri ini.

Kepala sekolah pun orang Tionghoa, Ibu Pan. Ia ditakuti, karena sangat disiplin dan galak. Anak-anak nakal ngeri berhadapan dengannya. Kalau bisa masalah di kelas jangan sampai diselesaikan oleh Ibu Pan. Ia membekali saya dan teman-teman dengan ilmu untuk mengarungi kehidupan.

Ketika saya pindah ke Pulau Jawa, saya menyaksikan kehidupan orang-orang Tionghoa yang berbeda.

Suatu hari saya sengaja pergi ke sebuah restoran di kawasan Permata Hijau, Jakarta Barat, yang menyediakan masakan Sichuan yang halal. Siang hari itu cukup sepi, baru dua meja terisi. Meja saya dan meja sebelah. Tetangga saya sebuah keluarga. Ibu, ayah, anak perempuan dan anak laki-laki. Ketika saya menyimak percakapan mereka, saya mengetahui bahwa anak perempuan itu adalah keponakan, bukan anak. Ia bercerita tentang situasi yang dihadapi para atlet Indonesia. Terdengar agak menyedihkan. Mereka berbicara dalam bahasa Jawa Timur yang sangat medok, sesekali diselingi Bahasa Indonesia. Opo rek rek …. Padahal mereka keluarga Tionghoa. Saya tertegun. Menurut saya, mereka bukan orang Tionghoa, melainkan orang Jawa Timur.

Identitas itu kultural. Budaya apa yang kamu jalankan, itulah identitas kamu. Kalau kamu menjalankan budaya Tionghoa ya kamu Tionghoa. Kalau kamu menjalankan budaya Jawa ya kamu Jawa. Kalau kamu menjalankan budaya campuran, kamu adalah anak segala bangsa.

Saya merindukan Pulau Bangka, ingin makan njan yang bukan anak Sule, dan bertamu ke rumah orang-orang yang merayakan Kongian. Mudah-mudahan khayalan ini suatu hari terwujud. Saya ingin pergi ke pantai-pantainya. Semoga pasir putih pantainya tidak lagi diangkut untuk membuat pantai pasir putih di Jakarta.