Diikuti Ratusan Peserta, Adara Selenggarakan” Kuliah Motivasi Al-Qur’an” Secara Online

MEGAPOLITANPOS.COM: Membaca Alquran dengan benar sesuai tajwid adalah wajib. Karena dengan tajwid, Allah turunkan Alquran.

“Membaca Alquran sesuai tajwid berarti pula kita memberikan hak dari masing-masing huruf Alquran, tidak mendzolimi Alquran,” demikian diungkapkan Ketua Adara Relief International sekaligus Pembina Baytut Tarbiah, Sri Vira Candra dalam sambutannya pada acara “Kuliah Motivasi Al-Qur’an” secara online melalui kanal YouTube, Sabtu (16/1/2021) lalu.

Dengan mengangkat tema “Mengapa harus Belajar Al-Qur’an dengan Metode Bersanad”.
Metode bersanad ini berarti membaca tilawah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. Karena itu, harus ada rujukan dari orang-orang (perawi, Syeikh) yang menjadi sandaran atau jalan yang menghubungkan satu hadis atau sunnah sampai pada Nabi Saw.

“Itu artinya, kita jangan belajar Alquran sendiri, harus berguru pada ahlinya yang memiliki kemampuan membaca Alquran sesuai tuntuntan Rasulullah,” terang Sri Vira.

Lebih lanjut Sri Vira berpesan bagi mereka yang hendak menghafal Alquran untuk belajar tajwid dahulu. Seperti yang sudah diberlakukan di Rumah Tahsin Baytut Tarbiyah.

“Kuliah” online ini menghadirkan “dosen tamu” Syekh Muhammad Saleh Abu Tayoun dari lembaga Asy Syatibi di Asia Tenggara. Penghapal Alquran bersanad dari Palestina.

Syekh Muhammad bercerita butuh perjuangan agar ia mampu menghafal Al-Qur’an. Kalau bukan karena taufik dan ridho dari Allah SWT, ia tak akan mungkin bisa menghafalkan Al-Qur’an 30 juz, hingga ia mendapat sanad di pengungsian Lebanon. Ia sendiri pemegang sanad hafalan Alqur’an ke-28.

“Waktu itu, syekh yang membimbing hafalan Juz Amma saya bilang mengapa tidak lanjut hafalan Al Qur’an 30 juz saja?” kata Syekh Muhammad seperti yang diterjemahkan Ustadzah Hasanah Ubaidillah yang juga pengurus Adara.

Menurut Syekh Muhammad Ia pun merasa tertantang untuk menghafal Alquran secara keseluruhan yang dimulainya saat awal tahun kuliah. Untuk mencapai tingkatan derajat tinggi sebagai penghafal Al-Qur’an, dibutuhkan usaha dan kerja keras, terlebih harus membagi waktu dengan kuliah.

Selain itu beliau mengingatkan, para penghafal Al-Qur’an harus terus melatih dan meningkatkan kemampuan menghafalnya. Harus juga terus belajar dengan musyrif (pembimbing) yang bacaannya mutqin dan menguasai ilmu tajwid.

Dikatakan, mempelajari hukum tajwid adalah wajib. Barangsiapa yang tidak membetulkan bacaannya (Al-Qur’an), maka ia berdosa. Sebagaimana turunnya Al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka seharusnya sampai kepada kita seperti itu juga. Bila tidak mengucapkan sesuai haknya maka akan ada kesalahan makna.

“Saat ini, jarak kita dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah 30 generasi. Bila tiap generasi mengabaikan 1% saja hukum tajwid, maka sudah 30% berkurang akibat melalaikan hukum tajwid. Jangan pernah menyepelekan hukum tajwid. Al-Qur’an harus diajarkan dengan detil dan teliti,” tandasnya.

Ia melanjutkan tidak ada kemuliaan yang lebih besar daripada jika nama kita tersambung kepada nama Rasulullah Saw. Ketika kita memiliki sanad, maka nama kita digandengkan dengan Rasulullah dan itu adalah suatu kemuliaan yang tidak terhingga.

Ia menambahkan belajar Alquran dengan pemegang sanad menjadi sangat penting. Karena sejatinya kita tidak hanya ingin belajar Al-Qur’an, tetapi juga mengajarkan Al-Qur’an kepada yang lain. Dengan sanad, kita bisa memastikan bacaan kita adalah benar, tidak ada kekurangannya.

Syekh Muhammad menyampaikan ada beberapa syarat mendapat sanad hafalan, yaitu harus sudah hafal mutqin dalam hukum tajwid, orang yang soleh dan bertakwa — karena tidak mungkin seorang penghafal Qur’an adalah orang yang bermaksiat, dan mengambil sanad dari Syekh yang juga telah mendapat ijazah sanad.

Ia mengingatkan kepada para peserta “kuliah online” bahwa perjalanan membersamai Alquran tidak mungkin selamat dari godaan setan, yang selalu berusaha memalingkan kita dari Alquran, menebarkan berbagai godaan dan rintangan, membisiki kita agar kita berhenti belajar dan menghafal Alquran.
“Tanyakan pada diri sendiri, kenapa kita harus menghafal Alquran. Bila kita bisa menjawab dengan tegas, maka kemauan kita pasti besar. Bila tidak, maka kita perlu berjuang untuk mendapatkan alasan yang tepat,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, sejak jaman dulu, wilayah Syam (Suriah, Lebanon, Yordania, dan Palestina) sangat terkenal dengan ulama Alquran. Kemudian datang Prancis dan Inggris dengan pengaruh Barat. Seiring dengan kebangkitan Islam, maka semakin banyak penghafal Alquran, baik dengan ijazah maupun tanpa ijazah.

Begitu juga dengan di Libanon Selatan (pengungsian) yang serba kekurangan. Karen Itu, ia berharap akan semakin banyak orang yang peduli kepada para penghafal Alquran khususnya di Palestina dan Lebanon.

Asy Syatibi sendiri memiliki program Tatsbit Al-Qur’an yang bertujuan memberi dukungan materi kepada anak-anak para penghafal Al-Qur’an yang sedang memantapkan hafalannya untuk mendapatkan sanad hafalan Al-Qur’an.

Syekh menutup motivasinya dengan mengajak peserta untuk banyak memohon pertolongan Allah dengan berdoa, dan mengingatkan diri kita masing-masing tentang urgensi belajar Alquran, dan terus menjaga keikhlasan.

Intinya, kita belajar tahsin ini bagaimana kita mempersembahkan bacaan yang terbaik kepada Allah. Kita tak perlu berkecil hati. Selama masih diberi nafas, selama itu kita diberi kesempatan untuk belajar.

Dan, yang jelas belajar tahsin pun mendapatkan pahala. Saat membaca dapat pahala, bacaan diulang-ulang juga dapat pahala. Karena itu, tidak perlu malu belajar tahsin. Ayo, mari kita bersemangat untuk mempelajari Alquran. Bismillah.(AS)

Leave a Comment