MEGAPOLITANPOS.COM. Tulisan ini di tulis oleh Dwi Hartanto, aktivis pergerakan tahun 90 yang ikut membidani lahirnya gerakan reformasi 98. Tulisan dalam rangka menyambut hari Ibu 22 Desember ini patut di baca sebagai sebuah relung perenungan terhadap jasa seorang ibu dan sekaligus penghormatan kepada seorang ibu. Selamat membaca…..

Refleksi Hari Ibu, sepenggal kenangan dan kesedihan bagi Tole dan Damar.

Di Minggu pagi yang mendung, Tole dan kakaknya tampak murung duduk di dekat cendela besar sebuah rumah tua, sebuah rumah tua yang cukup besar untuk ukuran sebuah Desa terpencil, dinding rumah itu terbuat dari plesteran batu-batu kali yang masih telanjang yang belum ditutup plesteran semen, sehingga berbagai bentuk batu-batu kali ukuran besar dan kecil tampak berjajar tak beraturan membentuk motif alami dinding rumah itu, sekilas dinding rumah tua itu seperti benteng pertahanan di zaman kolonial.

Jendela-jendela rumah tersebut tampak tinggi dan lebar, terbuat dari kayu, mungkin khas arsitek rumah-rumah tua tahun 50-an. Pondasi rumah tua tersebut tampak lebih tinggi dari bangunan-bangunan rumah dibelakangnya, dari jendela besar di belakang rumah itu, bangunan rumah tua itu seperti berlantai dua, sehingga kita bisa menatap pemandangan dibelakang rumah lebih leluasa kebawah.

Tepat dibelakang rumah tua itu terdapat kolam ikan yang lumayan luas yang banyak diisi ikan Gurame, ikan Mujahir dan lain-lain, tepat di belakang rumah antara jendela rumah dan kolam, terdapat jalan setapak yang ditumbuhi beberapa pohon cengkeh, yang tercium bau harum saat mulai berbunga dan saat buah cengkeh mulai berbuah kecoklatan. Tepat disisi kolam ikan itu terdapat jalan tanah yang tidak terlalu besar, tapi cukup dilewati gerobak kerbau atau dua motor yang saling berpapasan, jalan tanah itu biasa dilewati lalu-lalang penduduk Desa saat ingin pergi ke Pasar, ke Masjid atau ke Sawah.

Saat Tole dan Damar sedang duduk-duduk menatap keluar jendela, tiba-tiba dari sebelah kiri jalan tanah itu muncul seorang Ibu yang sedang menggendong anaknya yang masih balita, sementara punggungnya menggendong tenggok (keranjang yg dibuat dari anyaman bambu) yang dililit dengan kain ditubuhnya, sementara tangan kirinya menggandeng seorang anak laki-laki yang tampak ceria berjalan sambil jalan berloncatan, usianya sekitar sepuluh tahun yang mungkin seusia dengan Damar. Ibu tersebut saat melihat Tole dan Damar dijendela tampak tersenyum ramah, tatapannya teduh dan lembut. Setelah bertegur sapa khas penduduk desa dengan dua bocah itu, Ibu tersebut perlahan berlalu di ujung jalan Desa.

Tole tiba-tiba bertanya membuka percakapan, “Mas Damar, kenapa Bue (sebutan untuk ibu) sudah lama sekali gak pulang-pulang, aku kangen sekali”, sambil matanya berkaca-kaca menatap damar. Dalam tatapan lurus kedepan dan tampak kosong, seketika damar terkejut dengan pertanyaan adiknya yang menggugah perasaanya tersebut. Perlahan Damar menatap Tole adiknya, berusaha tersenyum dan menghapus kegundahannya, lalu berkata ke Tole, “sabar ya le, mungkin Bue masih ada urusan di Kota sehingga belum sempat pulang ke desa menemui kita”, jawab Damar lirih, berusaha bersikap tenang menenangkan adiknya.

Lalu Tole berkata lagi, “Tapi kenapa lama sekali, apa Bue gak sayang sama kita dan udah melupakan kita”, jawab Tole dengan nada agak tinggi tersengal-sengal, sambil meluapkan emosi kekanak-kanakannya.

Damar hanya bisa terdiam tak bisa menjawab, wajahnya tampak murung dan berkaca-kaca, perasaanya galau, dadanya terasa sesak, begitu perih menyayat-nyayat hati.

Dalam suasana diam Damar berkata dalam hatinya, Tole masih terlalu kecil untuk tau tentang sebuah kematian seorang manusia, terlebih kematian Ibunya sendiri, yang melahirkan dan sempat menyusuinya walau sebentar. Damar yang juga masih berusia sekitar sepuluh tahun dan baru duduk di kelas tiga SD juga kebingungan menjelaskan itu semua ke adiknya yang masih berumur enam tahun itu.

Saat itu damar hanya bisa terdiam, tak lama kemudian tangis Tole pecah, sambil memanggil-manggil nama ibunya, “Bue.. Bue..!!”, tangisnya makin kencang, bentuk kerinduan mendalam dengan ibunya, mata Damar mulai ikut berkaca-kaca mendengar raungan tangisan adiknya, Damar-pun punya perasaan kangen dan rindu dengan ibunya, sama seperti Tole.

Setelah berusaha menahan rasa sedih yang mendalam semampunya, tanpa bisa dibendung lagi, akhirnya tangis Damar-pun mulai pecah’, wajah Damar menunduk tertelungkup, dia berusaha menahan tangisan itu agar tidak terdengar di telinga adiknya, tangisan Damar hanya terdengar sesengukan dengan irama patah-patah, menahan lara kesedihan mendalam yang mengiris-iris perasaannya.

Dua bocah kecil yang terduduk di tepi jendela itu sedang meratap, menangis pilu dan hatinya kesakitan merindukan sosok ibunya, yang telah meninggal dan pergi karena sakit beberapa tahun sebelumnya.

Dalam setiap kesedihannya, saat berdoa berkali-berkali Damar selalu protes kepada Tuhan, “Tuhan, kenapa ibu kami kamu ambil dari hidup kami?, Kenapa anak-anak lain engkau biarkan tumbuh dan ditemani kasih-sayang ibunya setiap hari? Kenapa hanya aku yang ditinggalkan ibu, sementara teman-teman sekolahku setiap hari selalu ditunggui ibunya, dipeluk, dicium dan dikeloni ibunya saat malam menjelang tidur, hingga terbangun dari tidurnya di pagi hari?”.
Bentuk-bentuk protes dan kata-kata menghiba kepada Tuhan seringkali Damar ungkapkan, saat kesendiriannya dalam keheningan malam menjelang tidur, tentu saja dengan bahasa dan kata-kata sederhana seorang anak kecil.

Sedikit kebahagiaan Damar dan mungkin juga Tole adalah saat mereka tertidur dan bermimpi bertemu ibunya, yeah.. sedikit kebahagian anak kecil dialam mimpi. Saat itu Damar bisa tersenyum bahagia, tapi selebihnya, saat dia terbangun dan tersadar dalam kehidupan nyata bahwa ibunya telah pergi, seketika kerinduan akan sosok ibu kembali berujung pada kesedihan mendalam, memecah tangisan anak kecil itu setiap pagi menjelang sekolah, pada saat malamnya dia bermimpi bertemu ibunya.

Biasanya saat Damar merasakan perasaan rindu ingin bertemu ibunya, dia berjalan-jalan sendirian menyusuri pematang sawah, kemudian menuju sebuah pasarean desa (pemakaman umum desa), yang terletak diatas sebuah bukit di belakang Masjid desa. Seringkali Damar duduk bersimpuh diatas pusara makam ibunya, dia menunduk sambil menangis, mengadukan apapun kesedihan yang dia alami, tentunya dengan bahasa anak-anak yang masih berumur sepuluh tahun.

Selepas berlama-lama berdoa dan menangis, dia berbicara dan mengadu diatas makam ibunya, seolah ibunya ada dihadapannya, perasaan bocah kecil itu mulai sedikit tenang dan lega, walau pada kenyataanya tidak bisa meredakan seluruh kesedihannya, saat menyadari bahwa dia telah kehilangan sosok ibunya untuk selamanya.

Mungkin, tidak banyak anak-anak yang memiliki pengalaman pahit ditinggal pergi oleh ibunya pada usia yang masih sangat dini, saat seorang anak sangat membutuhkan kehadiran figur ibu. berusaha memulihkan guncangan-guncangan psikologisnya saat dia tumbuh dewasa, berusaha menyembuhkan luka-lukanya, dan kemudian bangkit seperti layaknya anak-anak yang terus ditemani ibunya hingga dewasa, bahkan hingga sampai mandiri hidupnya dan berumah tangga.

Tentunya tidak mudah menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya, lepas dari persoalan biologis saat melahirkan, pekerjaan domestik sehari-hari merawat anak, kelembutan dan kelapangan hati mendidik anak-anaknya untuk bisa tumbuh sehat, cerdas dan ceria.

Ibu bagi anak-anaknya, adalah sosok yang mengajarkan tentang peradaban awal umat manusia, jendela awal yang membimbing seorang anak melihat dunia yang luas ini, dan tentu saja sosok Ibu adalah yang paling awal mengajarkan tentang segala hal tentang keteladanan, kebaikan dan keburukan amal perbuatan manusia, yang akan mengiringi seorang anak bertumbuh besar kelak.

Pengalaman seorang anak yang kehilangan sosok ibu, lebih sering menimbulkan perasaan luka dan kesedihan yang mendalam. Maka berbahagialah kalian yang menjalani kehidupan hari ini, dan masih ditemani oleh seorang ibu.

Selamat hari Ibu.