Haniyeh pada Konferensi Internasional Al Aqsha yang digelar secara virtual, Sabtu (7/11/2020).

Jakarta(MEGAPOLITANPOS.COM) – Kepala Biro Politik gerakan Harakat al-Muqawamah al-Islammiya (HAMAS) Palestina, Ismail Haniyeh mengatakan bahwa saat ini Palestina mengubah strategi perjuangan dari bertahan sendirian menjadi kolaborasi dengan negara-negara yang mendukung kemerdekaan Palestina.

“Kami ingin membangun jaringan dengan negara tetangga. Dengan kerja sama, kita akan mampu melawan penjajahan ini. Tidak hanya kekuatan yang dibangun di kawasan tapi juga kekuatan internasional, ujar Haniyeh pada Konferensi Internasional Al Aqsha yang digelar secara virtual, Sabtu (7/11/2020).

Ismail Haniyeh juga menegaskan, dengan strategi yang baik dan terukur, dari perjuangan fisik menjadi kekuatan kolaborasi, kemerdekaan Palestina akan dapat terwujud.

“Strategi kolaborasi yang dilakukan menyeluruh, dengan kekuatan yang kita miliki merupakan modal perlawanan kita melawan penjajahan Israel. Ini adalah tantangan yang muncul dan harus kita respon dengan baik,” terangnya.

Dia mengajak seluruh umat Islam di dunia meninggalkan perseteruan internal. Hal itu harus dilakukan jika serius ingin membebaskan Palestina dari penjajahan zionis Israel.

“Karena kita harus segera menghadapi permasalahan eksternal, yaitu permasalah kita dengan penjajahan Zionis,” katanya.

Menurutnya melakukan berbagai upaya dan langkah untuk membuat kekacauan, termasuk salah satunya merayu negara-negara di sekitar Palestina untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.

“Mereka ingin membentuk opini seolah tidak ada masalah apa-apa antara negara Arab dengan zionis,” ujar Haniyeh.

Menghadapi hal itu, saat ini bangsa Palestina telah menyatukan langkah dan kekuatan untuk melawan penjajahan dan upaya normalisasi, “karena normalisasi hubungan dengan Israel adalah pengkhianatan terhadap perjuangan bangsa Palestina,” tegasnya.

Upaya pembebasan Palestina terus akan dilakukan dengan berbagai cara dan strategi karena menurutnya, bangsa Palestina tidak akan pernah berdiam diri menghadapi penjajahan. Namun, diperlukan dukungan dunia internasional khususnya kaum muslimin di seluruh dunia.

“Kami ingin membangun hubungan yang baik dengan negara-negara tetangga dan kaum muslimin karena dengan ini, kita akan mampu melawan penjajahan,” pungkasnya.

Dalam konferensi internasional yang diselenggarakan The Global Coalition for Quds and Palestine (GCQP) juga hadir berbagai pembicara antara lain Zwelivelile Mandla Mandela yang merupakan cucu Nelson Mandela. Konferensi ini juga diikuti oleh ratusan ribu peserta dari berbagai Negara.(AS)