Bushra Jamal Muhammad Thaweel

Jakarta(MEGAPOLITANPOS) : Bushra Jamal Muhammad Thaweel (22) memilih profesi wartawan setelah menyaksikan sendiri ayah dan ibunya ditangkap oleh pihak otoritas Israel.Sejak saat itu ia  terpanggil menjadi seorang aktivis dan wartawan untuk menyampaikan sesuatu yang terjadi di Palestina, membawa misi untuk disampaikan keseluruh dunia tentang realita yang sebenarnya.

“ Seorang wartawan harus menyampaikan kejadian secara obyektif, menjelaskan kepada khalayak ramai adalah menjadi wartawan yang diidam-idamkan.Wartawan yang ideal adalah bagaimana melihat, mendengar dan menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi, dengan profesi wartawan saya dapat menyaksikan pelanggaran verbal, phisik , perampasan tanah, penghancuran bangunan, rumah, dan juga perampasan kamera dll yang dilakukan tentara Israel,” kata Busro pada acara   press gathering via Zoom dengan tema “Kesaksian Wartawan Palestina “ yang digagas  Adara Relief Internasional (sebuah organisasi kemanusiaan yang memiliki fokus dalam membantu anak-anak dan perempuan Palestina)”, Rabu, 4 November 2020.

Bushra mengatakan Pemberitaan yang terkait dengan Palestina  wartawannya akan dihukum , dikenakan tahanan berbulan – bulan bahkan bertahun – tahun tanpa tuduhan yang tidak jelas.

 “jangankan berita tentang tawanan, sesuatu tentang Palestina misalnya Al-Aqsa dll banyak orang tidak tahu, Hukum internasional tidak boleh menangkap orang atau wartawan yang memberitakan sesuatu yang benar-benar terjadi, tapi itulah yang terjadi diPalestina,”kata Bushra.

Dijelaskannya, tentang persekusi bagi wartawan pada 2000 terdapat 27 wartawan yang ditawan dan sampai sekarang masih 25 orang  yang ditawan dan penghancuran rumah masih terjadi.

Selama ini, kata Bushra masih dilakukan bentuk intimidasi kepada keluarganya untuk kerjasama menghentikan aktifitasnya sebagai wartawan.Pihak zionis Israel kerap membujuk untuk bekerjasama agar tidak menjalankan aktivitasnya sebagai jurnalis. Ketika ayah ibunya ditangkap dan  ditawan Busro mengaku tidak diperkenankan untuk mengunjungi.

“hal tersebut dilakukan Israel agar saya kapok dan jera dan tidak menjalankan fropesinya sebagai jurnalis,” ungkapnya.

Lebih jauh Busro mengatakan bahwa sangat disayangkan terkait penangkapan dan penahannya oleh tentara Israel tidak mendapat perhatian dari asosiasi wartawan di Palestina.

“ sangat disayangkan pihak otoritas Palestina,  khusunya asosiasi wartawan di Paletina kurang peduli terhadap apa yang pernah saya alami,”imbuhnya.

Busro berharap awak media di Indonesia dapat  menjadi penyambung lidah wartawan palestina, “Apalagi perlu pendanaan untuk menjalankan misi bersama, misi kemanusiaan untuk bisa mencapai kemerdekaan rakyat palestina,”pungkasnya.

Dari sumber yang dihimpun Bushra Al-Taweel, (seorang mantan tahanan yang dibebaskan). Menjadi sasaran penangkapan selama pendudukan Israel. Dirinya menghabiskan waktu selama hampir 4 tahun, di penjara-penjara Israel.

Presiden konferensi Serikat Siswa di salah satu universitas Palestina tersebut, ditangkap dari rumah keluarganya di lingkungan Ain Misbah Kamis, 11 Desember 2019 lalu. Pengadilan Ofer  saat itu mengeluarkan keputusan administratif 4 bulan tambahan, terhadap Bushra Jamal Al Tawil yang merupakan aktivis hak asasi manusia.

Otoritas pendudukan penjajah Israel itu, sampai saat ini, masih menahan sekitar 5.700 warga Palestina.
Tersebar di hampir 23 pusat interogasi, penahanan dan penjara. Termasuk sekitar 500 orang, adalah tahanan administratif, 250 anak-anak dan 700 tawanan yang sedang sakit.***Alex