Pengamat Kebijakan Publik Soroti Dugaan Siswa Titipan Pada PPDB di Wilayah Banten

MEGAPOLITANPOS.COM, Banten – Sejumlah orang tua siswa kecewa saat proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2021 di Banten.

Pengamat menyebut, siswa yang tidak bisa masuk dalam proses PPDB, karena diduga terdampak kepentingan siswa titipan. Dan potensi terjadi pada jalur SMA/SMK Negeri di Banten.

“Informasinya kalau mau masuk harus pakai uang pelicin,” kata Miftahul Adib pengamat kebijakan publik Universitas Islam Syekh Yusuf (Unis) Tangerang, Jumat (21/7/2021).

Dia juga menduga ada sebuah jaringan yang mengambil kesempatan soal proses penyelenggaraan PPDB.

Adib mencontohkan sebuah SMA Negeri di Kota Tangerang yang kebetulan lokasinya dekat dengan rumah gubernur Banten saat ini. Ada dugaan digunakan oleh oknum untuk meminta biaya pelicin kepada orangtua siswa.

“Dampaknya yang masuk sekolah bukan pendaftar resmi secara online. Bahkan mereka tereliminasi atau gagal masuk sekolah negeri. Padahal minat siswa mengenyam pendidikan (SMA/SMK) negeri masih tinggi,” ucap Adib.

“Artinya orang yang memiliki dana atau cuan saja bisa masuk. Bagaimana nasib siswa tidak mampu? Padahal secara kualitas cerdas. Gagal lantaran kalah jaringan atau tidak mampu secara keuangan,” tegasnya.

Dan ini menurutnya potensi terjadi di sejumlah sekolah lain di Banten. Lalu ada dugaan modus sengaja saat proses pendaftaran dan pengumuman web mandiri yang dimiliki sekolah error, tidak bisa diakses pendaftar resmi.

Artinya kalau seperti itu Juknis PPDB 2021 di Banten tidak maksimal. Yakni terkait sistem zonasi, prestasi atau afirmasi dan lainnya tidak membela kepentingan dasar pendidikan rakyat.

Walaupun sudah diamandemen, Undang Undang Dasar (UUD) 1945 dalam pasal 31 tetap membela kepentingan dasar pendidikan untuk rakyat.

“Jadi yang untung bisa masuk sekolah negeri orang yang punya cuan (uang,red) mas. Yang miskin tersisih. Kalau sekolah di swasta orang yang tidak mampu berfikir dua kali. Akhirnya meski dipaksakan masuk mundur di tengah jalan karena biaya jadi pengangguran,” tukasnya.

Informasi yang berhasil dihimpun kata pendiri dan direktur eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN) ini menyebutkan,  jika separuh rombongan belajar (Rombel) dipatok dengan biaya Rp10 juta hingga Rp30juta menjadi perputaran uang yang cukup signifikan.

“Sangat fantastis nilainya. Sekolah yang bukan favorit tetap punya nilai. Yang favorit justru punya nilai lebih. Memang sekolah favorit di Tangerang lumayan banyak. Berbeda dengan kondisi di daerah lain. Yang (sekolah,red) favorit diburu orangtua siswa meskipun harus merogoh kocek lebih dalam,” tegas Adib.

Hal ini menjadi pekerjaan rumah Dindik atau UPT Pendidikan Banten khususnya yang berada di Tangerang, sebab SMA dan SMK Negeri di Tangerang Kota atau Tangsel masih menjadi favorit orangtua siswa.

“Harus sejajar di tengah SMA Negeri dan SMA Negeri yang jumlahnya masih minim. Harusnya tidak ada penerapan sekolah favorit,” tandas Adib.

Sebelumnya, proses PPDB 2021 di Banten dianggap bermasalah oleh sejumla orang tua siswa.

Bukan tanpa pasal, ketika sudah mendaftar melalui jalur online siswa gagal diterima di sekolah negeri yang dituju.

“Anak saya sudah mendaftar di SMA Negeri 9 Kota Tangerang saat pendaftaran, beberapa waktu lalu pas pengumuman gak lolos,” ungkap salah seorang orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya, Jumat (23/7/2021).

Menurutnya, ada yang aneh karena ketika pengumuman web aplikasi informasi kelulusan pendaftaran siswa sedang eror.

“Jadi gak jelas penerimaan jalur zonasi prestasi atau yang lainnya,” ujarnya.Jhn