Sekilas Kisah Jembatan Gantung Kp.Serab dan mushallah Nurul Jami

Jakarta( MEGAPOLITANPOS.COM): Ciliwung merupakan sungai bersejarah yang sekaligus merupakan benteng alam Kerajaan Pajajaran (1482-1567) saat masih berdiri.

Pengelolaan Ciliwung sudah ada sejak Kolonial Belanda berkuasa di Jawa. Bagi Belanda, merawat hulu Ciliwung sama halnya menjaga wibawa ibukota, Batavia, yang sekarang bernama Jakarta.

Ciliwung membentang dari hulu di Bogor, meliputi kawasan Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan Cisarua lalu mengalir ke hilir di pantai utara Jakarta.

Panjangnya 120 kilometer dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) 387 kilometer persegi. Ciliwungmerupakan satu dari 15 sungai yang diprioritaskan pemulihannya oleh Pemerintah Indonesia.

Menilik Sungai Ciliwung erat kaitannya dengan jembatan, tentu saja untuk melintas bagi masyarakat.

Walau masih ada juga beberapa lokasi yang menggunakan Getek (perahu penyeberangan) atau memang sudah ada yang dibangun jembatan beton.

Berbicara jembatan, banyak cerita mistis.ada simanis jembatan Ancol, jembatan Cisadane. Jembatan Casablanca( eh bukan itu terowongan).

Dalam hal ini jembatan gantung(goyang) yang melintasi Sungai Ciliwung di Kp.Serab Tirtajaya Depok, ada juga cerita mistisnya.

” Jembatan Gantung ini memang dibangun sejak lama oleh ABRI Masuk Desa dan memiliki nilai historis, makanya jembatan ini selalu dirawat sedemikian rupa agar kuat dan tahan lama, dan jembatan ini tidak akan dibangun permanen( betonisasi),” kata Sugianto, pemerhati lingkungan disekitar lokasi, pada wartawan, Senin (24/4/2021).

Melewati jembatan Gantung tersebut kata Sugianto bagi pengendara motor harus bergiliran agar tidak terlalu membebani jembatan.

” Pernah suatu ketika ada mobil angkot melintas paksa, memang muat tapi setelah itu kami peringatkan untuk jangan sekali sekali lagi angkot melintasi jembatan, tentu sangat rawan roboh,” imbuhnya.

Lain halnya Pak Amil, tokoh masyarakat setempat yang sudah sejak awal tinggal di lokasi tersebut, bercerita tentang hal Ikhwal jembatan gantung dan keterkaitannya dengan mushalla Nurul Jami yang persis berada di bawah jembatan.

Pak Amil mengkisahkan, suatu ketika pak Amil muda pulang kerja larut malam, pada saat itu belum banyak penghuni disekitar lokasi tersebut.

” Dulu itu bada magrib aja sudah sepi, soalnya lampu penerangan jalan masih terbatas dan kadang suasananya memang beda, hening sunyi menyeramkan, kalau sekarang 24 jam lewat sini masih ramai aja, ada aja yang begadang,” ungkap Pak Amil.

Selanjutnya, pada saat pulang tersebut dan melintas jembatan yang alasnya dulu bukan seperti sekarang Baja tapi anyaman bambu.

kira kira usai lembur kerja, sambung pak Amil sekitar pukul 00 dinihari. Dengan jelas dirinya melihat sesosok Ular besar bermahkota,” kalau bisa disebut mungkin Ratu Jaya, posisi kepalanya persis di atas jembatan dan ekornya persis di bawah( di lokasi yang sekarang menjadi Mushala Nurul Jami,” tukasnya.

Makanya kadang kadang kalau kita bawa hewan seperti Sapi , Kambing ,Kerbau kalau melintas di jembatan tersebut suka berontak, bahkan pernah ada kerbau untuk hewan kurban yang mengamuk dan jatuh ke sungai, lantaran terus mengamuk maka dilumpuhkan oleh polisi dengan pistol, jadi kerbau tersebut batal untuk hewan kurban jadinya sedekah.” Sambungnya.

Pak Amil menambahkan, Konon beberapa warga sepuh lain bercerita bahwa persis di bawah jembatan yang dekat mushalla itu malam tertentu terlihat warna kemerahan (merah delima).

” Ya seperti Kilauan merah kadang kekuningan pastinya itu benda bertuah entah berupa batu atau mustika lain, cuma sapa yang berani ambil, tentunya ada penjaganya,” imbuhnya.

Selain itu ada juga warga sekitar yang menemukan Golok bertuah di tempat yang sama,” Golok tersebut beda dari biasanya, kelihatannya saja jelek, tapi sangat tajam ketika diadu atau benturkan dengan golok lain pasti golok yang lain itu tumpul,” tutupnya.( ASl/ Red/ Mp).

COMMENTS

Leave a Comment