Mengenal Lebih Dekat Rumah Batik Palbatu ” Batik Kebanggaan Raja- Raja”

Poto: Hary, Founder Rumah Batik Palbatu

Jakarta ( MEGAPOLITANPOS.COM): Secara umum batik adalah kain yang dilukis dengan cairan lilin malam menggunakan alat bernama canting sehingga di atas kain tersebut terdapat lukisan bernilai seni tinggi. Meski sekarang ini teknik membatik sudah lebih modern dengan mesin cetak atau printing.

Di Jakarta ada tempat ekowisata sekaligus edukasi batik. Namanya Rumah Batik Palbatu( dahulu namanya Kampung Batik Palbatu) yang letaknya di Jalan Palbatu IV, Nomor 17, Menteng Dalam, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Di sini, pengunjung bisa belajar aneka motif batik, sejarah hingga cara membuat batik.

” Mengapa sekarang namanya Rumah Batik Palbatu? Rumah atau Kampung Batik tidak harus kawasan tersebut semuanya bercorak batik, satu rumah saja sudah mewakili kawasan tersebut menjadi kampung batik,” ungkap Hary, Founder Rumah Batik Palbatu di ruang kerjanya, Sabtu(21/5/2021).

Awalnya kata Hary, dulu dinamakan Kampoeng Batik dengan berbagai corak yang terkanvas di tembok tembok dan jalan jalan. Pada akhirnya mengundang tidak hanya tamu lokal tapi ada yang datang dari luar negeri hingga sedikit mengganggu lingkungan.

Menurutnya banyak orang berpendapat, kain bermotif batik adalah batik, tapi belum tentu, sekilas batik padahal Cap atau printing.

” Kalau batik yang asli perbedaannya jelas pasti ada corak yang abstrak, mengandung filosofi dan makna, beda batik cap atau printing semua gambar sama rata, ya karena hasil cetakan mesin, maka jangan heran ada batik Sidamukti dari Cina,” tuturnya.

Teknik membuat batik dengan cara tradisional masih banyak diminati karena semakin sulit tingkat proses membatik maka semakin mahal harga jualnya.

” Dahulu para pembatik membuat karyanya untuk dipersembahkan pada raja, ada kebanggaan yang luar biasa bagi para pembatik ketika batik hasil karyanya dipersembahkan pada raja,”imbuhnya.

Hary mengaku pernah memecahkan record Muri dengan membatik sepanjang jalan di kawasan. Memang kami perlu biaya juga untuk Administrasinya di Muri sekitar Rp35 juta, kami cari sponsor, namun detik detik acara baru hanya dari bank syariah disetujui.

” Hanya Rp10 juta sisanya kami cari kesana kemari, rumah rumah warga sekitar kami pinjam, ada 20 rumah warga untuk penginapan para tamu yang datang dari daerah bahkan ada yang tidur di garasi, bahkan ada tamu yang pulang karena tidak layaknya tempat penginapan,” katanya

Rumah Batik Palbatu merupakan sebuah rumah atau tempat yang digunakan untuk melestarikan dan mengembangkan batik.

“Melalui Rumah Batik Palbatu, kami ingin mengajak generasi muda Indonesia untuk mencintai batik dengan melestarikan dan mengembangkannya. Melalui program edukasi Belajar Membatik, Sekolah Batik Palbatu yang berada dalam naungan Rumah Batik Palbatu, kami menyebarluaskan keunikan proses pembuatan batik yang masih sangat jarang diketahui, khususnya bagi anak-anak dan remaja,” ujar Harry.

Sejarah dan alasan berdirinya Rumah Batik Palbatu adalah berawal dari rasa keprihatinan tiga orang pemuda kreatif, Bimo, Iwan dan Hary atas tidak adanya kampung batik di Jakarta.

Hary kemudian membentuk Forum Komunikasi Pengembangan Kampung Batik Palbatu di Jalan Palbatu. Pada 21-22 Mei 2011, mereka kemudian mengundang 18 pengrajin batik dari Jawa untuk berbagi ilmu membatik kepada warga di Jalan Palbatu dan sekitarnya.

Pada 2 Oktober 2011, Hary mendirikan Rumah Batik Palbatu agar lebih mudah mengedukasi masyarakat tentang batik. Awalnya diakui sulit, tapi seiring berjalan waktu semuanya berubah mengembirakan.

“Dengan kegiatan batik di sini bahwa kami mengenal setiap orang lewat batik,” kata Hary.

Pada 2013 baru punya rumah batik palbatu disisi lain karena belum punya tempat kita numpang di area kosong, perjalanan waktu mengganggu lingkungan banyak tamu dari dalam dan luar negeri.

Rumah Batik Palbatu kata Hary adalah satu satunya yang pertama ada di Jakarta, dan tidak ada pengrajin batiknya, beda Rumah Batik yang ada di kampung batik Solo.

“Dulu tempat yang disewa Rumah Batik Palbatu ini adalah klinik kesehatan, dengan bergulirnya program BPJS dari pemerintah, sehingga klinik kurang di kunjungi, karena pakai BPJS gratis,” imbuh Hary.

Dalam biaya operasional diakuinya pernah dibantu dinas terkait dari segi pelatihan, namun sekarang dia tidak bersedia lagi, karena menurutnya khawatir terjadi marup biaya, artinya ” ada penggelembungan biaya” disitu.

” Kami tidak ingin kerja keras kami menjadi buruk di mata Tuhan, walau keliatan bagus Dimata mabisia.nanti bagaimana saya mempertanggungjawabkan dihadapannya,” tukasnya.

Masih menurut Hary, Rumah Batik Palbatu kini sedang ada kemitraan dari anak perusahaan PT Astra dari dana CSR untuk membantu pelatihan bagi para disabilitas.

” terus terang selama pandemi ini selama setahun lebih tidak ada tamu, karena sepi tamu kami tidak ada pemasukan,” katanya.

Hary berharap Rumah Batik Palbatu bisa memproduksi batik sendiri, dan berharap pula Rumah Batik Palbatu yang dikelolanya dapat melahirkan pembatik- pembatik baru.

” Tidak menutup kemungkinan kedepan diera digital orang beli batik bukan kain atau pakaian batik, tetapi cukup design batiknya saja,” pungkasnya.

Sekedar informasi, Hari Batik Nasional diperingati tiap 2 Oktober, sekaligus untuk mengapresiasi ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan Untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity)oleh UNESCO.(ASl/HEA/Red/Mp).

COMMENTS

Leave a Comment